Wednesday, March 16, 2011

Kisah pakis dan bambu


Alkisah, tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup.

Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.

“Tuhan,” katanya. “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”

Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.

“Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?”.

“Ya,” jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik. Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi. Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun. Tapi Aku tidak menyerah.

“Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak,

tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.

Tapi Aku tidak menyerah.

“Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.

Tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun ke-4, masih juga belum ada apapun dari benih bambu.

Aku tidak menyerah,” kataNya.

“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.

Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.

Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.

Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun.

Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.

Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku, “kata Tuhan kepada pria itu.

“Tahukah kamu, anak-Ku, di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”

“Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu.”

“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.

“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah.”

“Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi.

Thursday, December 9, 2010


Sudah lama rumah ini tidak tersilau. Sepertinya rumput dan semak sudah tumbuh dimana-mana. Dasar penghuni malas, sungguh malas untuk membenahi rumahnya. Setelah dibaca, dibelek-belek kembali, seperti tidak percaya dengan apa yang telah ku tulis di blog ini.

Hampir dua tahun blog ini sepertinya tidak tersentuh. Keasyikan bermain fesbuk atau aktifitas lainnya telah membunuh keinginan untuk selalu menulis dan belajar menulis. Banyak yang pengen ditulis dan diceritakan, tunggu saat yg tepat aja kali... hehe


Tuesday, January 13, 2009

Holiday to Kuantan

Berbeda dengan resort-resort yang sebelumnya pernah kami kunjungi. Resort ini tepatnya berlokasi di daerah pantai timur, sekitar 250 km dari Kuala Lumpur ke arah timur. Meskipun melewati perjalanan yang melelahkan dari Bangi tak kurang sedikit pun semangatku dan juga semangat para ponakanku untuk menikmati masa liburannya. Perjalanan panjang dan juga melelahkan, ditambah dengan panas terik (mana ada daerah di Malaysia ini yang ga panas) dah pasti menambah gerah, ga ada solusi lain selain menurunkan suhu AC mobil.

Berangkat awal pagi rencananya, tapi biasalah, anak-anak kecil ini belum pada bangun, dan akhirnya perjalanan pun bermula pada jam 11 pagi. Melewati jalan tol MRR2, menyusuri pinggir Kuala Lumpur, terus ke Gombak dan melalui pegunungan ke arah Genting Highland, masuk tol Karak dan akhirnya melalui tol Pantai Timur sampai masuk ke kota Kuantan di Negeri Pahang. Meskipun sempat berputar-putar dalam kota Kuantan untuk mencari jalan keluar kea rah resort, namun kami menikmatinya sekalian melihat-lihat keadaan kota Kuantan.

Akhirnya, sampai juga di tempat tujuan, De Rhu Beach Resort. Resort yang terletak di tepi pantai. Lumayan oke, 4 bintang (four star hotel) sih. Namun aneh juga, sebanyak itu hotel dan resort yang pernah kami kunjungi baru kali ini lah ada hotel yang tidak memiliki lift, bayangin ajah harus nenteng barang-barang sampai ke lantai dua, a be ce de, capek deh………

Ada hal yang menarik sewaktu melihat website hotel ini, bentuk kolam renang yang unik dengan pulau di tengah-tengah kolam. Meskipun penat, tidak mengurangi semangat tuk mulai main-main air di kolam. Ponakanku pun dah mulai ganti kostum, dan pada ga sabar lagi mo turun, akhirnya……..jur….ke kolam renang deh. Memang agak beda dikit, arsitektur kola mini agak aneh, konsepnya seperti danau yang ada di pinggir laut, dibuat berbentuk lingkaran dan ditengah-tengahnya ada pulau kecil tempat berjemur. Lumayan rame sih, rata-rata melayu dan ga ada keliatan yang berhidung mancung atau yang memakai bikini.

Semua terlihat menikmati harinya, sampai si Adam kecil pun ikut main air meski berjalan saja masih tertatah titih. Dah pasti Aiman, Anis dan Sarah sangat riang bermain air, tak ketinggalan juga Farhan dan Farihin yang seperti orang baru keluar dari kekangan, semua melompat dan menikmati hari di sore itu. Sayangnya, pantainya terletak di sebelah timur, so, no sunset this time. Dekat bedug magrib barulah semua berhenti, dan antri menunggu mandi di kamar hotel….eerrggghhh…dingiiiiiinnnnn……

Dinginnya AC ruangan membangunkan penghuninya untuk solat subuh, sarapan dan terjun lagi ke kolam renang. Ga tanggung-tanggung, dari jam 9 pagi sampe jam 1 siang, weleh-weleh dah terbakar ni kulit. Resort ini agak khas dikit, meskipun di tepi pantai, panasnya ga terasa bangat layaknya pantai-pantai lain, sehingga anak-anak masih betah bermain, dan ketika masuk kamar hotel barulah sadar, sunburn, aku hitam lagi………….kecapean deh, ketiduran, sore olahraga, karena paket olahraga telah tersedia, ada badminton, futsal, squash, tennis, tennis meja, dan gymnastic juga ada, pake lah sepuas-puasnya. Bis magrib, ada dinner grating, nimbrung aja dah…….and, after that back to Bandar Baru Bangi…benar-benar SMP (selesai makan pulang)..hehehe, a nice holiday

Life is a Gift

Today before you think of saying an unkind word-
Think of someone who can't speak.

Before you complain about the taste of your food-
Think of someone who has nothing to eat.

Before you complain about your husband or wife-
Think of someone who's crying out to God for a companion.

Today before you complain about life-
Think of someone who went too early to heaven.

Before you complain about your children-
Think of the people who desires children but they're barren.

Before you argue about your dirty house, someone didn't clean or sweep-
Think of the people who are living in the street.

Before whining about the distance you drive-
Think of someone who walks the same dostance.

And when you are tired and complain about your job-
Think of unemployed, the disable and those who wished they had your job.

But before you think of pointing the finger or condemning another-
Remember that not one of us is without sin and we all answer to one maker.

And when depressing thoughts seem to get you down-
Put a smile on your face and thank God you're alive and still around.

Ekspresi Aura Kejujuran

Pernahkah menatap orang terdekat ketika sedang tidur.......

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.

Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Orang paling kejam didunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.


Perhatikanlah ayah Anda saat beliau sedang tidur.

Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita,

anak-anaknya. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita berjalan lancar.


Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibunda Anda. Kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu, kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata- mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.


Cobalah tatap wajah orang-orang tercinta itu...

Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak,

Sahabat, Semuanya...

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.

Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan saat menatap wajah yang terlelap itu.

Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.


Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar. Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.


Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata... "betapa lelahnya aku hari ini".

Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.


Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, mengatur rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka.


Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.


Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi membuka matanya, untuk selamanya

Antara Kopi dan Cangkir

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri.
They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. "Serve yourself," kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

"Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling
mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?" sang profesor memulai wejangannya. "Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided," kali ini kalimatnya mulai menekan hati. "So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead," demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan.
Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -- artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan -- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup.
Tak memperhatikan
orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar
lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras.
Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini
adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, "Take no thought for yourlife, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?" Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembab: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.
Enjoy your coffee, my friend!


"dari seorang kawan"

Masa Reses

Dunia bukan selebar daun kelor, itulah sering diucapkan oleh orang-orang. Ini bermakna dunia tidaklah hanya tempat yang kita diami sekarang, tapi jauh daripada itu di luar sana dunia itu masih luas, luas dan luas lagi.

Tersebutlah di suatu dunia antah berantah, hiduplah beberapa orang sahabat. Dikatakan ekslusif, kadang-kadang iya juga, tapi tidak sepenuhnya mereka ini menutup diri dari dunia luar, akses mereka ke dunia luar terbuka lebar, mungkin saja ini disebabkan ikatan batin diantara mereka yang begitu kuat sehingga sesama mereka sudah seperti bersaudara.

Ceritanya, semuanya adalah pelajar. Latar belakang pendidikan mereka juga beragam. Mulai dari sains eksakta maupun sains sosial, dan ga tanggung-tanggung, mereka ini adalah calon orang penting dan orang besar di negeri Badut Enotsiah. Latar belakang ekonomi tentulah lebih kuat, karena mereka berangkat dari negeri Enotsiah tanpa mengandalkan beasiswa seorangpun. Artinya, ortu mereka beking utama finansial. Kalau dikaji soal isi kepala, mereka juga potensial, ga salah lagi kalo mereka ini adalah orang-orang pintar dan memiliki otak dengan kapasitas middle up, kalo ga gimana bisa mereka berpikir tuk hal-hal yg sewajarnya dipikirkan oleh pelajar master.

Disini saya akan bercerita tentang hati. Hati yang dimiliki oleh setiap orang. Hati memiliki kaitan erat dengan perasaan. Perasaan berkaitan erat dengan stimulan. Stimulan-stimulan yang ada akan ditransfer via syaraf ke masing-masing sensor yang ada dalam tubuh kita. Rasa gula yang manis biasanya dicicip oleh lidah, ketika lidah merasakan seperti apa rasa gula tersebut maka informasi akan disampaikan ke otak, otak memproses sinyal yang disampaikan kepadanya sehingga terhasilkanlah sebuah kata “manis” yang diucapkan oleh lidah si penyicip rasa. Begitu lah semuanya berjalan, sensor alamiah manusia itu jauh lebih sensitif dibandingkan dengan sensor buatan manusia, sensitivitas dan efektifitas ternyata sempurna. Maha suci Allah.

Hati, anugrah terindah manusia yang diberikan oleh Allah. Dengan hati kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Dengan hari pula kita bisa merasakan getaran-getaran hebat itu yang akhirnya bisa mengguncang dunia. “Witing tresno jalaran suko kulino”, bagi saya adalah suatu hal yang benar, entah karena sifat saya yang mudah jatuh cinta. Berangkat dari sini, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati saya (lagi-lagi masalah hati).

Kita kembali ke pelajar dari negeri Enotsiah tadi. Cerita punya cerita mereka ini kabarnya pernah terlibat dalam pengurusan suatu organisasi yang sama sekali bikin kepala pusing. Bagaimana tidak, kabarnya organisasi itu sudahlah tidak digaji, malah menghabiskan kantong pribadi dan juga diumpat, dicaci maki ma orang lain, tentu saja itu laksana tikus-tikus, dan tidak suka dengan organisasi tadi. Namanya saja tikus, binatang pengerat yang yang selalu merugikan orang banyak, dan selalu memanfaatkan keadaan, misalnya bergerilya di tengah malam di saat orang-orang tengah terlelap tidur.

Saking komited-nya, para pelajar dari negeri Enotsiah tadi sangat kompak. Bisa jadi hati-hati mereka telah menyatu untuk melawan segala ancaman yang dating, dan kayaknya mereka adalah petarung sejati, sampai-sampai ada yang sanggup meninggalkan kuliah demi kelangsungan organisasi. Korban duit itu mah dah biasa kali, tapi kalo dah sampe korban waktu, tenaga dan bolos kuliah??lo orang memang komitmen penuh. Secara psikologi mereka semua ini masih muda, dan memiliki semangat yang berkobar-kobar dan tentu saja saling ingin membuat yang terbaik bagi kelangsungan organisasi. Terus apa hubungannya ma hati?

Secara hubungan matematis, kita bisa buat hubungan antara frekuensi bertemu dengan debaran hati sang pelaku. Secara awam, kalau kita andaikan frekuensi berjumpa adalah F dan debaran hari adalah d, maka kita bisa katakana bahwa d berbanding lurus dengan F. apalagi kalo d dibuatkan dalam skala logaritmik, bisa jadi kecekungan grafik d itu akan naik dengan tajam, artinya bisa jadi debaran hati 100 kali, 1000 kali ataupun lebih dari 10.000 kali frekuensi bertemu.

Saya tidak menafikan pepatah Jawa itu, tapi menurut saya pribadi itu terbukti. Kita kembali ke pelajar-pelajar Enotsiah tadi. Sebenarnya mereka ini ada 10 orang (resminya sih 9 orang: kata juru bicaranya), frekuensi bertemu -meskipun bertemunya bukan untuk urusan pribadi, namun lebih sering adalah urusan umat- telah menumbuhkan benih-benih di dalam hati. Bisa jadi setiap orang telah menetapkan seseorang di dalam hatinya. Ini bukan mengada-ada loh, telah terbukti 4 orang (2 pasang) diantara mereka telah melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan, selanjutnya siapa????