Ga tau kapan kita mulai berkenalan, yang pasti dengan beberapa orang diantara mereka aku dah kenal kok, karena kita satu angkatan masuk ke UKM ini. Malam itu, dikala orang-orang sibuk dengan tugas-tugas kuliah, disaat orang-orang sibuk dengan kuliah, diwaktu orang-orang sedang beristirahat di rumah masing-masing, kami masih berada di kampus, tepatnya auditorium siswa Pusanika. Semua orang lagi sibuk menghias pentas dan setting ruangan untuk acara besok. Tiba-tiba, hpku berdering, ada pesan masuk “msh sibuk yah?aku msh di undang-undang mo balik” dari sebuah nomor yang tidak aku kenali. Cek ricek ternyata saya baru kenal ma orang ini. Secara formal sih ga ada kenalan kok, mungkin karena diriku mudah dikenali, dia sendiri aja tuh yang berinisiatif menyimpan nomor hpku. Sapa lagi dalam gerombolan ini yang belajar di undang-undang, kalau bukan dia.
Macam-macam keanehan terjadi di malam itu. Mulai dari orang-orang yang kelaparan sehingga memberantutkan otaknya tuk menghasilkan idea. Wajar juga sih, kita di Pusanika kan sejak sore sampai malam hari, ya pasti saja itu masa-masa genting tuk mengisi perut buat kali ke sekian di hari itu. Tapi memang benar, setelah makan semua orang punya ide cerdas. Mo masang tulisan tema aja ga ada ide, setelah makan langsung ada yang nyeletuk , “buat ajah setengah lingkaran”. Sebenarnya ini hanya iseng-iseng aja, tapi karena semua dah kehilangan ide, ya langsung diterima gitu ajah. Disinilah semua bermulai, dan secara otomatis program PPI yang pertama ini pun sukses. Meskipun ada boikot disana-sini.
Bagiku, kalo selalu rame-rame dan selalu ngumpul itu sih hal yang biasa. Makan bersama dan jalan bersama itu juga merupakan hal yang wajar. Tapi, kalau ngumpul dan jalan-jalannya itu membawa suatu misi tertentu, ini baru luar biasa. Bagaimana tidak?, setiap pertemuan tentu saja sedang membicarakan suatu acara atau event-event penting lain yang akan dilaksanakan. Jalan-jalan pun bukanlah jalan-jalan yang murni, tapi adalah jalan-jalan nyambi, nyambi jalan sekalian survey misalnya. Semua ada bukti kok, setiap survey tentu saja ada dokumentasinya dan tentu saja ini adalah kesempatan bagi personel-personel yang gila poto, untuk berpose dan berakting di depan kamera.
Pernah juga suatu ketika, disaat tension yang sangat tinggi. Jujur saja, aku sangat kecewa dengan semua orang ini ketika itu. Gimana tidak, aku sanggup membatalkan kepergianku bercuti bersama keluarga demi membantu sobat-sobatku ini. Hari itu, seisi rumahku pergi bercuti 2 hari 1 malam ke Tiara Beach Resort, Port Dickson. Dah kebayang tuh gimana soronoknya nanti disana. Tapi, karena ingat kawan akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak ikut. Pagi-pagi sekali aku dah sampai di gerai. Tidak ada siapapun disana di pagi itu, dan setelah beberapa menit barulah sampai beberapa orang lagi. Aneh, kenapa tidak, biasa kalau ada satu orang yang lain pasti saja ada. Ya udah, karena telah berniat, aku pun mulai mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Pelanggan sudah mulai berdatangan dan ramai, penjaga gerai pun kewalahan melayani pelanggan. Ada yang mengisi booth bakso dan mie ayam, tapi dia datang hanya untuk mengantarkan barang dagangannya, tanpa mempersiapkan segalanya. Yah penin deh……………
Pagi itu, semuanya kerja ekstra keras. Ada seorang personal ekstra yang tidak terdaftar dalam buku anggota dan terpaksa ikut kerja keras. Sebenarnya dia bukan terpaksa kerja, tapi dia bekerja dengan ikhlas, sepertinya. Dia rendam mie sedikit demi sedikit, dia panaskan kuah bakso dan campurkan semuanya sehinggalah menjadi bakso ataupu mie ayam, sesuai dengan permintaan pelanggan. Dia memang pekerja keras, salut deh ma dia. Perempuan yang satu lagi ini, sebenarnya dia sudah dari pagi berada di gerai, tapi dia sibuk menyiapkan ruang pameran promosi pariwisata Indonesia . Bukan berarti dia ga bantu, dia bantu kok, dan kayaknya dia belum mandi juga dari pagi karena tanggung jawab itu tadi. Makanan pun telah berdatangan silih berganti. Trip pertama telah sampai dengan kancilnya, hatiku agak riang dikit, melihat wajah-wajah kusam dan tidak bersahabat. Turun dari kendaraannya hanya untuk menurunkan makanan tanpa ada say hello atau apapun itu. Tiba-tiba seorang perempuan mendekati sambil memberikan daftar harga makanan yang dibawanya “Bror, harga modal untuk kue-kue ini segini dan terserah mo jual berapa ajah”. Semua tampak cool (kalau kataku mah cooleheuk), dan sesaat setelah itu pun berlalu meninggalkan gerai. Yah, tinggallah kami seperti awal tadi lagi.
Energi pun terkuras tuk memikirkan kejadian aneh ini. Ada apa sih sebenarnya?apakah ini benar-benar mau mengerjain aku???atau memaanfaatkan aku yang telah expert dalam hal berniaga???( kok jadi ujub gini…), haaaaaaaah, penin deh. Sampai siang pun tidak ada satupun diantara mereka yang nongol lagi ke gerai, meskipun orang-orang telah berdatangan untuk membantu kerja dan membantu mencicipi masakan gerai kita. Dekat sore, barulah mereka bermunculan. Tapi tetap saja lagak mereka seperti bos semuanya, akupun pernah jadi bos dengan anak buah lebih dari 30 orang, tapi ga kayak ini bangat kok, sebel deh…………………….. sampailah di penghujung acara. Aku pun dah mulai malas dan uring-uringan. Beruntunglah aku karena ada tumpangan ke hentian setelah solat magrib, jadi aku tidak perlu menyaksikan pemandangan ini sampai ke akhir acara. Aku pun cabut ke hentian. Sebenarnya malam itu aku diajak seseorang tuk menemankan dia pergi takziah ke rumah temannya di daerah Petaling Jaya, tapi karena acara belum beres acara takziah pun dibatalkan.
Malam itu adalah malam minggu, yah, malam yang selalu diagung-agungkan oleh sebahagian orang. Orang-orang ini masih berkumpul di 3-1A hentian 5 malam itu, karena acara takziah batal dan yang lain pun masih ingin untuk berjalan-jalan di akhir minggu itu. Setelah berdebat untuk menentukan tujuan, akhirnya dipilihlah KLIA sebagai sasarannya, mau lihat pesawat di malam hari. Gila ga sihhh????, tapi sang sopir kreatif juga, kita tidak perlu melewati jalan tol, namun melalui kampung-kampung di daerah Bangi, Dengkil dan Banting sana . Perjalanan terasa hangat karena terjadi perbincangan seru anatar aku dan mereka. Aku protes, kenapa mereka tidak membantuku selama di gerai tadi. Dan akhirnya dia pun cerita, dan juga cerita mengenai kekesalan mereka kepada sang ketua, halaaaaaaaaaaaaaaaa aaaa, kok jadi gini sih???? Jadi, ke KLIA adalah usaha untuk release tension bo.
Masih kebayang kok bagaimana kelakuan orang-orang aneh ini di KLIA. Ada yang tertawa terbahak-terbahak hingga orang yang tertidur (yang sedang transit di KLIA) terbangun. Dan berbagai percakapan konyol pun berlalu, ada juga peristiwa sepak menyepak sendal jelek, berlari-lari diatas eskalator sampai-sampai dicurigai oleh pengawal keselamatan. Pokoknya betul-betul konyol.
Hari pun sudah menunjukkan tengah malam, dan bahkan dah mau pagi. Semua kelaparan, tujuan selanjutnya adalah mencari warung makan tuk mengganjal perut di pagi buta. Tujuan selanjutnya adalah restoran Nasi Kandar di samping KLCC, kancil pun melaju dari KLIA ke KLCC di pagi buta, dan jalanan pun masih penuh, maklumlah malam minggu. Sampai di KLCC dah hampir pukul 3.00 pagi, dan semua pun makan dengan lezatnya, hinggalah kantuk menyerang lagi. Balik ke hentian dan semua penumpang tertidur karena kekenyangan. 5.00 pagi sampai di taman tenaga. Benar-benar relesae tension sampai pagi dan benar-benar konyol, menghilangkan stress dengan melihat pesawat-pesawat parkir di KLIA.
Yah, begitulah, ini baru sedikit penggalan cerita. Cerita yang akan selalu tertoreh dalam kenangan. Yang tidak akan terlupakan, mungkin saat ini seseorang melupakannya, namun suatu saat nanti akan teringat kembali, dan menimbulkan rindu yang mendalam, tapi itu semua sudah berlalu, biarlah menjadi “kenangan yang terindah”.

No comments:
Post a Comment