Tuesday, January 13, 2009

Masa Reses

Dunia bukan selebar daun kelor, itulah sering diucapkan oleh orang-orang. Ini bermakna dunia tidaklah hanya tempat yang kita diami sekarang, tapi jauh daripada itu di luar sana dunia itu masih luas, luas dan luas lagi.

Tersebutlah di suatu dunia antah berantah, hiduplah beberapa orang sahabat. Dikatakan ekslusif, kadang-kadang iya juga, tapi tidak sepenuhnya mereka ini menutup diri dari dunia luar, akses mereka ke dunia luar terbuka lebar, mungkin saja ini disebabkan ikatan batin diantara mereka yang begitu kuat sehingga sesama mereka sudah seperti bersaudara.

Ceritanya, semuanya adalah pelajar. Latar belakang pendidikan mereka juga beragam. Mulai dari sains eksakta maupun sains sosial, dan ga tanggung-tanggung, mereka ini adalah calon orang penting dan orang besar di negeri Badut Enotsiah. Latar belakang ekonomi tentulah lebih kuat, karena mereka berangkat dari negeri Enotsiah tanpa mengandalkan beasiswa seorangpun. Artinya, ortu mereka beking utama finansial. Kalau dikaji soal isi kepala, mereka juga potensial, ga salah lagi kalo mereka ini adalah orang-orang pintar dan memiliki otak dengan kapasitas middle up, kalo ga gimana bisa mereka berpikir tuk hal-hal yg sewajarnya dipikirkan oleh pelajar master.

Disini saya akan bercerita tentang hati. Hati yang dimiliki oleh setiap orang. Hati memiliki kaitan erat dengan perasaan. Perasaan berkaitan erat dengan stimulan. Stimulan-stimulan yang ada akan ditransfer via syaraf ke masing-masing sensor yang ada dalam tubuh kita. Rasa gula yang manis biasanya dicicip oleh lidah, ketika lidah merasakan seperti apa rasa gula tersebut maka informasi akan disampaikan ke otak, otak memproses sinyal yang disampaikan kepadanya sehingga terhasilkanlah sebuah kata “manis” yang diucapkan oleh lidah si penyicip rasa. Begitu lah semuanya berjalan, sensor alamiah manusia itu jauh lebih sensitif dibandingkan dengan sensor buatan manusia, sensitivitas dan efektifitas ternyata sempurna. Maha suci Allah.

Hati, anugrah terindah manusia yang diberikan oleh Allah. Dengan hati kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Dengan hari pula kita bisa merasakan getaran-getaran hebat itu yang akhirnya bisa mengguncang dunia. “Witing tresno jalaran suko kulino”, bagi saya adalah suatu hal yang benar, entah karena sifat saya yang mudah jatuh cinta. Berangkat dari sini, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati saya (lagi-lagi masalah hati).

Kita kembali ke pelajar dari negeri Enotsiah tadi. Cerita punya cerita mereka ini kabarnya pernah terlibat dalam pengurusan suatu organisasi yang sama sekali bikin kepala pusing. Bagaimana tidak, kabarnya organisasi itu sudahlah tidak digaji, malah menghabiskan kantong pribadi dan juga diumpat, dicaci maki ma orang lain, tentu saja itu laksana tikus-tikus, dan tidak suka dengan organisasi tadi. Namanya saja tikus, binatang pengerat yang yang selalu merugikan orang banyak, dan selalu memanfaatkan keadaan, misalnya bergerilya di tengah malam di saat orang-orang tengah terlelap tidur.

Saking komited-nya, para pelajar dari negeri Enotsiah tadi sangat kompak. Bisa jadi hati-hati mereka telah menyatu untuk melawan segala ancaman yang dating, dan kayaknya mereka adalah petarung sejati, sampai-sampai ada yang sanggup meninggalkan kuliah demi kelangsungan organisasi. Korban duit itu mah dah biasa kali, tapi kalo dah sampe korban waktu, tenaga dan bolos kuliah??lo orang memang komitmen penuh. Secara psikologi mereka semua ini masih muda, dan memiliki semangat yang berkobar-kobar dan tentu saja saling ingin membuat yang terbaik bagi kelangsungan organisasi. Terus apa hubungannya ma hati?

Secara hubungan matematis, kita bisa buat hubungan antara frekuensi bertemu dengan debaran hati sang pelaku. Secara awam, kalau kita andaikan frekuensi berjumpa adalah F dan debaran hari adalah d, maka kita bisa katakana bahwa d berbanding lurus dengan F. apalagi kalo d dibuatkan dalam skala logaritmik, bisa jadi kecekungan grafik d itu akan naik dengan tajam, artinya bisa jadi debaran hati 100 kali, 1000 kali ataupun lebih dari 10.000 kali frekuensi bertemu.

Saya tidak menafikan pepatah Jawa itu, tapi menurut saya pribadi itu terbukti. Kita kembali ke pelajar-pelajar Enotsiah tadi. Sebenarnya mereka ini ada 10 orang (resminya sih 9 orang: kata juru bicaranya), frekuensi bertemu -meskipun bertemunya bukan untuk urusan pribadi, namun lebih sering adalah urusan umat- telah menumbuhkan benih-benih di dalam hati. Bisa jadi setiap orang telah menetapkan seseorang di dalam hatinya. Ini bukan mengada-ada loh, telah terbukti 4 orang (2 pasang) diantara mereka telah melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan, selanjutnya siapa????

No comments:

Post a Comment