Tuesday, January 13, 2009

Selamat Jalan Buya

Dia adalah sosok yang disegani orang ramai. Dia adalah seorang yang berwibawa dan disegani semua orang dari berbagai kalangan. Kata-kata yang dikeluarkannya adalah kata-kata yang penuh makna dan tidak ada sedikitpun kata-kata yang keluar tanpa pemikiran terlebih dahulu. Meskipun pendidikan formalnya tidaklah setara dengan seorang dosen yang bergelar doctor, namun penguasaan ilmunya bisa dikatakan hampir sama dengan seorang doctor. Dia hanyalah seorang guru agama di sekolah Ibtidaiyah swasta, sekolah agama setingkat sekolah dasar di sebuah kampong di pedalaman Sumatra Barat.

Bertindak sebagai kepala sekolah sejak dia mulai mengajar, mungkin sejak dia mendirikan sekolah yang pada awalnya bernama Darul Huda (DH). Entah dari kapan, pokoknya sewaktu orang tuaku bersekolah dulu dia juga merupakan kepala sekolahnya. Semua urusan adalah di tangannya. Mulai dari urusan administrasi, urusan keuangan, urusan mengajar sampai kepada urusan olahraga dia yang menguruskannya. Disaat ada guru yang berhalangan hadir, dialah orang yang akan selalu mengisi kekosongan tersebut. Muali dari pelajaran Bahasa Arab, Syariah, Tarikh sampai kepada Khat dia adalah jago semuanya, tapi mustahil dia sendiri yang mengajar, karena kelas lebih daripada satu. Begitu lah kemahirannya. Disaat dia mengajarkan Bahasa Arab, kita menganggap dialah sang guru terbaik di dunia ini, disaat dia mengajarkan Tarikh dan bercerita mengenai kehidupan nabi di bumi Arab pada masa dahulu, kita pun terbius sambil mengkhayalkannya. Dan tak jarang, disaat-saat pelajaran akan berakhir dia selalu menyelipkan motivasi agar kita selalu berusaha yang terbaik dalam hidup ini.

Sejarah Nagari Rao-Rao pun sepertinya juga sudah kekal dalam kepalanya, sehingga ketika dia bercerita kami pun seperti mendengar cerita “babad tanah leluhur” yang dulu sering disiarkan di radio. Entah siapa tokoh yang diceritakannya, kami semua tidak ada yang mengenalinya satupun, namun dia akan selalu menunjuk ke orang-orang tertentu jika orang terebut memiliki hubungan kekeluargaan dengan tokoh yang sedang diceritakannya itu. Dan, tak ayal juga kalau seandainya ada murid yang geleng-geleng kepala, karena tidak semua murid mengetahui asal-usul mereka, dan maklum saja, kami pun masa itu sedang berda di bangku sekolah dasar, masih budak ingusan.

Karena kewibawaannya, kadang dia juga terkesan galak, mungkin karena ketegasannya. Dia tidak sungkan-sungkan untuk menghukum murid-murid yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya. Tangan atau punggung kena rotan, itu hanya hal biasa. Selalunya, jika ada pertanyaan atau soal yang diberikannya tidak bias dijawab oleh murid, maka siap-siap lah menerima hukuman tersebut. Gaya mengajarnya memang masih menggunakan prinsip orang lama, namun sangat berkesan. Itu pun masih berlangsung sampai awal 90an, namun, di era abad 21 sudah banyak ternyata yang berani melawan dia yang masih menerapkan cara kampungan tersebut (menurut mereka).

Pernah suatu ketika, disaat kelas telah usai, tepatnya jam 5.30 sore, semua kelas telah usai dan murid-murid pun diperbolehkan keluar kelas. Entah kenapa, tiba-tiba ada seorang murid yang memberitahukan saya dan kawan-kawan laki-laki lainnya supaya kembali lagi ke kelas, Pak “B” sedang menunggu, ada urusan penting. Dengan nafas yang terengah-engah dan penuh tanda Tanya di kepala kami pun terpaksa kembali, memang tidak banyak, dalam kelas itu murid laki-laki tidak lebih dari 10 orang. Dia pun keliatan sangat gusar dan marah sekali. Ternyata, ada salah seorang kawan saya yang sangat usil dan keterlaluan, perlakuannya itu sangat memalukan sekolah agama tentunya. Meskipun baru setingkat sekolah dasar ternyata kawan saya ini benar-benar keterlaluan, dia berani ---------- terhadap seorang murid perempuan. Tak ayal lagi, meskipun dia yang berbuat, kami pun terkena getahnya, kami diskors dari sekolah selama seminggu, dan itu sangat memalukan kami sebagai laki-laki. Begitulah ketegasannya, tidak ada satupun yang berani menantangnya saat itu.

Saya baru sadar, kalau semua pelajaran hidup yang diajarkannya dulu tidaklah kita perhatikan. Semua itu mulai terasa disaat-saat sekarang ini, diwaktu hidup mulai terasa sulit dan di masa kedewasaan yang makin menjelang. Terimkasih Buya, semoga apa yang Buya ajarkan akan selalu mendampingi Buya di alam itu, dan semoga amal ibadah Buya itu akan melapangkan kubur Buya.

Selamat Jalan dan terima kasih Buya Bukhari Bakry El Hakim

No comments:

Post a Comment