Tuesday, January 13, 2009

Holiday to Kuantan

Berbeda dengan resort-resort yang sebelumnya pernah kami kunjungi. Resort ini tepatnya berlokasi di daerah pantai timur, sekitar 250 km dari Kuala Lumpur ke arah timur. Meskipun melewati perjalanan yang melelahkan dari Bangi tak kurang sedikit pun semangatku dan juga semangat para ponakanku untuk menikmati masa liburannya. Perjalanan panjang dan juga melelahkan, ditambah dengan panas terik (mana ada daerah di Malaysia ini yang ga panas) dah pasti menambah gerah, ga ada solusi lain selain menurunkan suhu AC mobil.

Berangkat awal pagi rencananya, tapi biasalah, anak-anak kecil ini belum pada bangun, dan akhirnya perjalanan pun bermula pada jam 11 pagi. Melewati jalan tol MRR2, menyusuri pinggir Kuala Lumpur, terus ke Gombak dan melalui pegunungan ke arah Genting Highland, masuk tol Karak dan akhirnya melalui tol Pantai Timur sampai masuk ke kota Kuantan di Negeri Pahang. Meskipun sempat berputar-putar dalam kota Kuantan untuk mencari jalan keluar kea rah resort, namun kami menikmatinya sekalian melihat-lihat keadaan kota Kuantan.

Akhirnya, sampai juga di tempat tujuan, De Rhu Beach Resort. Resort yang terletak di tepi pantai. Lumayan oke, 4 bintang (four star hotel) sih. Namun aneh juga, sebanyak itu hotel dan resort yang pernah kami kunjungi baru kali ini lah ada hotel yang tidak memiliki lift, bayangin ajah harus nenteng barang-barang sampai ke lantai dua, a be ce de, capek deh………

Ada hal yang menarik sewaktu melihat website hotel ini, bentuk kolam renang yang unik dengan pulau di tengah-tengah kolam. Meskipun penat, tidak mengurangi semangat tuk mulai main-main air di kolam. Ponakanku pun dah mulai ganti kostum, dan pada ga sabar lagi mo turun, akhirnya……..jur….ke kolam renang deh. Memang agak beda dikit, arsitektur kola mini agak aneh, konsepnya seperti danau yang ada di pinggir laut, dibuat berbentuk lingkaran dan ditengah-tengahnya ada pulau kecil tempat berjemur. Lumayan rame sih, rata-rata melayu dan ga ada keliatan yang berhidung mancung atau yang memakai bikini.

Semua terlihat menikmati harinya, sampai si Adam kecil pun ikut main air meski berjalan saja masih tertatah titih. Dah pasti Aiman, Anis dan Sarah sangat riang bermain air, tak ketinggalan juga Farhan dan Farihin yang seperti orang baru keluar dari kekangan, semua melompat dan menikmati hari di sore itu. Sayangnya, pantainya terletak di sebelah timur, so, no sunset this time. Dekat bedug magrib barulah semua berhenti, dan antri menunggu mandi di kamar hotel….eerrggghhh…dingiiiiiinnnnn……

Dinginnya AC ruangan membangunkan penghuninya untuk solat subuh, sarapan dan terjun lagi ke kolam renang. Ga tanggung-tanggung, dari jam 9 pagi sampe jam 1 siang, weleh-weleh dah terbakar ni kulit. Resort ini agak khas dikit, meskipun di tepi pantai, panasnya ga terasa bangat layaknya pantai-pantai lain, sehingga anak-anak masih betah bermain, dan ketika masuk kamar hotel barulah sadar, sunburn, aku hitam lagi………….kecapean deh, ketiduran, sore olahraga, karena paket olahraga telah tersedia, ada badminton, futsal, squash, tennis, tennis meja, dan gymnastic juga ada, pake lah sepuas-puasnya. Bis magrib, ada dinner grating, nimbrung aja dah…….and, after that back to Bandar Baru Bangi…benar-benar SMP (selesai makan pulang)..hehehe, a nice holiday

Life is a Gift

Today before you think of saying an unkind word-
Think of someone who can't speak.

Before you complain about the taste of your food-
Think of someone who has nothing to eat.

Before you complain about your husband or wife-
Think of someone who's crying out to God for a companion.

Today before you complain about life-
Think of someone who went too early to heaven.

Before you complain about your children-
Think of the people who desires children but they're barren.

Before you argue about your dirty house, someone didn't clean or sweep-
Think of the people who are living in the street.

Before whining about the distance you drive-
Think of someone who walks the same dostance.

And when you are tired and complain about your job-
Think of unemployed, the disable and those who wished they had your job.

But before you think of pointing the finger or condemning another-
Remember that not one of us is without sin and we all answer to one maker.

And when depressing thoughts seem to get you down-
Put a smile on your face and thank God you're alive and still around.

Ekspresi Aura Kejujuran

Pernahkah menatap orang terdekat ketika sedang tidur.......

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.

Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Orang paling kejam didunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.


Perhatikanlah ayah Anda saat beliau sedang tidur.

Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita,

anak-anaknya. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita berjalan lancar.


Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibunda Anda. Kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu, kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata- mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.


Cobalah tatap wajah orang-orang tercinta itu...

Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak,

Sahabat, Semuanya...

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.

Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan saat menatap wajah yang terlelap itu.

Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.


Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar. Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.


Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata... "betapa lelahnya aku hari ini".

Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.


Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, mengatur rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka.


Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.


Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi membuka matanya, untuk selamanya

Antara Kopi dan Cangkir

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri.
They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. "Serve yourself," kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

"Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling
mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?" sang profesor memulai wejangannya. "Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided," kali ini kalimatnya mulai menekan hati. "So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead," demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan.
Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -- artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan -- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup.
Tak memperhatikan
orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar
lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras.
Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini
adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, "Take no thought for yourlife, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?" Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembab: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.
Enjoy your coffee, my friend!


"dari seorang kawan"

Masa Reses

Dunia bukan selebar daun kelor, itulah sering diucapkan oleh orang-orang. Ini bermakna dunia tidaklah hanya tempat yang kita diami sekarang, tapi jauh daripada itu di luar sana dunia itu masih luas, luas dan luas lagi.

Tersebutlah di suatu dunia antah berantah, hiduplah beberapa orang sahabat. Dikatakan ekslusif, kadang-kadang iya juga, tapi tidak sepenuhnya mereka ini menutup diri dari dunia luar, akses mereka ke dunia luar terbuka lebar, mungkin saja ini disebabkan ikatan batin diantara mereka yang begitu kuat sehingga sesama mereka sudah seperti bersaudara.

Ceritanya, semuanya adalah pelajar. Latar belakang pendidikan mereka juga beragam. Mulai dari sains eksakta maupun sains sosial, dan ga tanggung-tanggung, mereka ini adalah calon orang penting dan orang besar di negeri Badut Enotsiah. Latar belakang ekonomi tentulah lebih kuat, karena mereka berangkat dari negeri Enotsiah tanpa mengandalkan beasiswa seorangpun. Artinya, ortu mereka beking utama finansial. Kalau dikaji soal isi kepala, mereka juga potensial, ga salah lagi kalo mereka ini adalah orang-orang pintar dan memiliki otak dengan kapasitas middle up, kalo ga gimana bisa mereka berpikir tuk hal-hal yg sewajarnya dipikirkan oleh pelajar master.

Disini saya akan bercerita tentang hati. Hati yang dimiliki oleh setiap orang. Hati memiliki kaitan erat dengan perasaan. Perasaan berkaitan erat dengan stimulan. Stimulan-stimulan yang ada akan ditransfer via syaraf ke masing-masing sensor yang ada dalam tubuh kita. Rasa gula yang manis biasanya dicicip oleh lidah, ketika lidah merasakan seperti apa rasa gula tersebut maka informasi akan disampaikan ke otak, otak memproses sinyal yang disampaikan kepadanya sehingga terhasilkanlah sebuah kata “manis” yang diucapkan oleh lidah si penyicip rasa. Begitu lah semuanya berjalan, sensor alamiah manusia itu jauh lebih sensitif dibandingkan dengan sensor buatan manusia, sensitivitas dan efektifitas ternyata sempurna. Maha suci Allah.

Hati, anugrah terindah manusia yang diberikan oleh Allah. Dengan hati kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Dengan hari pula kita bisa merasakan getaran-getaran hebat itu yang akhirnya bisa mengguncang dunia. “Witing tresno jalaran suko kulino”, bagi saya adalah suatu hal yang benar, entah karena sifat saya yang mudah jatuh cinta. Berangkat dari sini, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati saya (lagi-lagi masalah hati).

Kita kembali ke pelajar dari negeri Enotsiah tadi. Cerita punya cerita mereka ini kabarnya pernah terlibat dalam pengurusan suatu organisasi yang sama sekali bikin kepala pusing. Bagaimana tidak, kabarnya organisasi itu sudahlah tidak digaji, malah menghabiskan kantong pribadi dan juga diumpat, dicaci maki ma orang lain, tentu saja itu laksana tikus-tikus, dan tidak suka dengan organisasi tadi. Namanya saja tikus, binatang pengerat yang yang selalu merugikan orang banyak, dan selalu memanfaatkan keadaan, misalnya bergerilya di tengah malam di saat orang-orang tengah terlelap tidur.

Saking komited-nya, para pelajar dari negeri Enotsiah tadi sangat kompak. Bisa jadi hati-hati mereka telah menyatu untuk melawan segala ancaman yang dating, dan kayaknya mereka adalah petarung sejati, sampai-sampai ada yang sanggup meninggalkan kuliah demi kelangsungan organisasi. Korban duit itu mah dah biasa kali, tapi kalo dah sampe korban waktu, tenaga dan bolos kuliah??lo orang memang komitmen penuh. Secara psikologi mereka semua ini masih muda, dan memiliki semangat yang berkobar-kobar dan tentu saja saling ingin membuat yang terbaik bagi kelangsungan organisasi. Terus apa hubungannya ma hati?

Secara hubungan matematis, kita bisa buat hubungan antara frekuensi bertemu dengan debaran hati sang pelaku. Secara awam, kalau kita andaikan frekuensi berjumpa adalah F dan debaran hari adalah d, maka kita bisa katakana bahwa d berbanding lurus dengan F. apalagi kalo d dibuatkan dalam skala logaritmik, bisa jadi kecekungan grafik d itu akan naik dengan tajam, artinya bisa jadi debaran hati 100 kali, 1000 kali ataupun lebih dari 10.000 kali frekuensi bertemu.

Saya tidak menafikan pepatah Jawa itu, tapi menurut saya pribadi itu terbukti. Kita kembali ke pelajar-pelajar Enotsiah tadi. Sebenarnya mereka ini ada 10 orang (resminya sih 9 orang: kata juru bicaranya), frekuensi bertemu -meskipun bertemunya bukan untuk urusan pribadi, namun lebih sering adalah urusan umat- telah menumbuhkan benih-benih di dalam hati. Bisa jadi setiap orang telah menetapkan seseorang di dalam hatinya. Ini bukan mengada-ada loh, telah terbukti 4 orang (2 pasang) diantara mereka telah melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan, selanjutnya siapa????

Ga tau ni apa...

Ga tau kapan kita mulai berkenalan, yang pasti dengan beberapa orang diantara mereka aku dah kenal kok, karena kita satu angkatan masuk ke UKM ini. Malam itu, dikala orang-orang sibuk dengan tugas-tugas kuliah, disaat orang-orang sibuk dengan kuliah, diwaktu orang-orang sedang beristirahat di rumah masing-masing, kami masih berada di kampus, tepatnya auditorium siswa Pusanika. Semua orang lagi sibuk menghias pentas dan setting ruangan untuk acara besok. Tiba-tiba, hpku berdering, ada pesan masuk “msh sibuk yah?aku msh di undang-undang mo balik” dari sebuah nomor yang tidak aku kenali. Cek ricek ternyata saya baru kenal ma orang ini. Secara formal sih ga ada kenalan kok, mungkin karena diriku mudah dikenali, dia sendiri aja tuh yang berinisiatif menyimpan nomor hpku. Sapa lagi dalam gerombolan ini yang belajar di undang-undang, kalau bukan dia.

Macam-macam keanehan terjadi di malam itu. Mulai dari orang-orang yang kelaparan sehingga memberantutkan otaknya tuk menghasilkan idea. Wajar juga sih, kita di Pusanika kan sejak sore sampai malam hari, ya pasti saja itu masa-masa genting tuk mengisi perut buat kali ke sekian di hari itu. Tapi memang benar, setelah makan semua orang punya ide cerdas. Mo masang tulisan tema aja ga ada ide, setelah makan langsung ada yang nyeletuk , “buat ajah setengah lingkaran”. Sebenarnya ini hanya iseng-iseng aja, tapi karena semua dah kehilangan ide, ya langsung diterima gitu ajah. Disinilah semua bermulai, dan secara otomatis program PPI yang pertama ini pun sukses. Meskipun ada boikot disana-sini.

Bagiku, kalo selalu rame-rame dan selalu ngumpul itu sih hal yang biasa. Makan bersama dan jalan bersama itu juga merupakan hal yang wajar. Tapi, kalau ngumpul dan jalan-jalannya itu membawa suatu misi tertentu, ini baru luar biasa. Bagaimana tidak?, setiap pertemuan tentu saja sedang membicarakan suatu acara atau event-event penting lain yang akan dilaksanakan. Jalan-jalan pun bukanlah jalan-jalan yang murni, tapi adalah jalan-jalan nyambi, nyambi jalan sekalian survey misalnya. Semua ada bukti kok, setiap survey tentu saja ada dokumentasinya dan tentu saja ini adalah kesempatan bagi personel-personel yang gila poto, untuk berpose dan berakting di depan kamera.

Pernah juga suatu ketika, disaat tension yang sangat tinggi. Jujur saja, aku sangat kecewa dengan semua orang ini ketika itu. Gimana tidak, aku sanggup membatalkan kepergianku bercuti bersama keluarga demi membantu sobat-sobatku ini. Hari itu, seisi rumahku pergi bercuti 2 hari 1 malam ke Tiara Beach Resort, Port Dickson. Dah kebayang tuh gimana soronoknya nanti disana. Tapi, karena ingat kawan akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak ikut. Pagi-pagi sekali aku dah sampai di gerai. Tidak ada siapapun disana di pagi itu, dan setelah beberapa menit barulah sampai beberapa orang lagi. Aneh, kenapa tidak, biasa kalau ada satu orang yang lain pasti saja ada. Ya udah, karena telah berniat, aku pun mulai mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Pelanggan sudah mulai berdatangan dan ramai, penjaga gerai pun kewalahan melayani pelanggan. Ada yang mengisi booth bakso dan mie ayam, tapi dia datang hanya untuk mengantarkan barang dagangannya, tanpa mempersiapkan segalanya. Yah penin deh……………

Pagi itu, semuanya kerja ekstra keras. Ada seorang personal ekstra yang tidak terdaftar dalam buku anggota dan terpaksa ikut kerja keras. Sebenarnya dia bukan terpaksa kerja, tapi dia bekerja dengan ikhlas, sepertinya. Dia rendam mie sedikit demi sedikit, dia panaskan kuah bakso dan campurkan semuanya sehinggalah menjadi bakso ataupu mie ayam, sesuai dengan permintaan pelanggan. Dia memang pekerja keras, salut deh ma dia. Perempuan yang satu lagi ini, sebenarnya dia sudah dari pagi berada di gerai, tapi dia sibuk menyiapkan ruang pameran promosi pariwisata Indonesia . Bukan berarti dia ga bantu, dia bantu kok, dan kayaknya dia belum mandi juga dari pagi karena tanggung jawab itu tadi. Makanan pun telah berdatangan silih berganti. Trip pertama telah sampai dengan kancilnya, hatiku agak riang dikit, melihat wajah-wajah kusam dan tidak bersahabat. Turun dari kendaraannya hanya untuk menurunkan makanan tanpa ada say hello atau apapun itu. Tiba-tiba seorang perempuan mendekati sambil memberikan daftar harga makanan yang dibawanya “Bror, harga modal untuk kue-kue ini segini dan terserah mo jual berapa ajah”. Semua tampak cool (kalau kataku mah cooleheuk), dan sesaat setelah itu pun berlalu meninggalkan gerai. Yah, tinggallah kami seperti awal tadi lagi.

Energi pun terkuras tuk memikirkan kejadian aneh ini. Ada apa sih sebenarnya?apakah ini benar-benar mau mengerjain aku???atau memaanfaatkan aku yang telah expert dalam hal berniaga???( kok jadi ujub gini…), haaaaaaaah, penin deh. Sampai siang pun tidak ada satupun diantara mereka yang nongol lagi ke gerai, meskipun orang-orang telah berdatangan untuk membantu kerja dan membantu mencicipi masakan gerai kita. Dekat sore, barulah mereka bermunculan. Tapi tetap saja lagak mereka seperti bos semuanya, akupun pernah jadi bos dengan anak buah lebih dari 30 orang, tapi ga kayak ini bangat kok, sebel deh…………………….. sampailah di penghujung acara. Aku pun dah mulai malas dan uring-uringan. Beruntunglah aku karena ada tumpangan ke hentian setelah solat magrib, jadi aku tidak perlu menyaksikan pemandangan ini sampai ke akhir acara. Aku pun cabut ke hentian. Sebenarnya malam itu aku diajak seseorang tuk menemankan dia pergi takziah ke rumah temannya di daerah Petaling Jaya, tapi karena acara belum beres acara takziah pun dibatalkan.

Malam itu adalah malam minggu, yah, malam yang selalu diagung-agungkan oleh sebahagian orang. Orang-orang ini masih berkumpul di 3-1A hentian 5 malam itu, karena acara takziah batal dan yang lain pun masih ingin untuk berjalan-jalan di akhir minggu itu. Setelah berdebat untuk menentukan tujuan, akhirnya dipilihlah KLIA sebagai sasarannya, mau lihat pesawat di malam hari. Gila ga sihhh????, tapi sang sopir kreatif juga, kita tidak perlu melewati jalan tol, namun melalui kampung-kampung di daerah Bangi, Dengkil dan Banting sana . Perjalanan terasa hangat karena terjadi perbincangan seru anatar aku dan mereka. Aku protes, kenapa mereka tidak membantuku selama di gerai tadi. Dan akhirnya dia pun cerita, dan juga cerita mengenai kekesalan mereka kepada sang ketua, halaaaaaaaaaaaaaaaa aaaa, kok jadi gini sih???? Jadi, ke KLIA adalah usaha untuk release tension bo.

Masih kebayang kok bagaimana kelakuan orang-orang aneh ini di KLIA. Ada yang tertawa terbahak-terbahak hingga orang yang tertidur (yang sedang transit di KLIA) terbangun. Dan berbagai percakapan konyol pun berlalu, ada juga peristiwa sepak menyepak sendal jelek, berlari-lari diatas eskalator sampai-sampai dicurigai oleh pengawal keselamatan. Pokoknya betul-betul konyol.

Hari pun sudah menunjukkan tengah malam, dan bahkan dah mau pagi. Semua kelaparan, tujuan selanjutnya adalah mencari warung makan tuk mengganjal perut di pagi buta. Tujuan selanjutnya adalah restoran Nasi Kandar di samping KLCC, kancil pun melaju dari KLIA ke KLCC di pagi buta, dan jalanan pun masih penuh, maklumlah malam minggu. Sampai di KLCC dah hampir pukul 3.00 pagi, dan semua pun makan dengan lezatnya, hinggalah kantuk menyerang lagi. Balik ke hentian dan semua penumpang tertidur karena kekenyangan. 5.00 pagi sampai di taman tenaga. Benar-benar relesae tension sampai pagi dan benar-benar konyol, menghilangkan stress dengan melihat pesawat-pesawat parkir di KLIA.

Yah, begitulah, ini baru sedikit penggalan cerita. Cerita yang akan selalu tertoreh dalam kenangan. Yang tidak akan terlupakan, mungkin saat ini seseorang melupakannya, namun suatu saat nanti akan teringat kembali, dan menimbulkan rindu yang mendalam, tapi itu semua sudah berlalu, biarlah menjadi “kenangan yang terindah”.

Selamat Jalan Buya

Dia adalah sosok yang disegani orang ramai. Dia adalah seorang yang berwibawa dan disegani semua orang dari berbagai kalangan. Kata-kata yang dikeluarkannya adalah kata-kata yang penuh makna dan tidak ada sedikitpun kata-kata yang keluar tanpa pemikiran terlebih dahulu. Meskipun pendidikan formalnya tidaklah setara dengan seorang dosen yang bergelar doctor, namun penguasaan ilmunya bisa dikatakan hampir sama dengan seorang doctor. Dia hanyalah seorang guru agama di sekolah Ibtidaiyah swasta, sekolah agama setingkat sekolah dasar di sebuah kampong di pedalaman Sumatra Barat.

Bertindak sebagai kepala sekolah sejak dia mulai mengajar, mungkin sejak dia mendirikan sekolah yang pada awalnya bernama Darul Huda (DH). Entah dari kapan, pokoknya sewaktu orang tuaku bersekolah dulu dia juga merupakan kepala sekolahnya. Semua urusan adalah di tangannya. Mulai dari urusan administrasi, urusan keuangan, urusan mengajar sampai kepada urusan olahraga dia yang menguruskannya. Disaat ada guru yang berhalangan hadir, dialah orang yang akan selalu mengisi kekosongan tersebut. Muali dari pelajaran Bahasa Arab, Syariah, Tarikh sampai kepada Khat dia adalah jago semuanya, tapi mustahil dia sendiri yang mengajar, karena kelas lebih daripada satu. Begitu lah kemahirannya. Disaat dia mengajarkan Bahasa Arab, kita menganggap dialah sang guru terbaik di dunia ini, disaat dia mengajarkan Tarikh dan bercerita mengenai kehidupan nabi di bumi Arab pada masa dahulu, kita pun terbius sambil mengkhayalkannya. Dan tak jarang, disaat-saat pelajaran akan berakhir dia selalu menyelipkan motivasi agar kita selalu berusaha yang terbaik dalam hidup ini.

Sejarah Nagari Rao-Rao pun sepertinya juga sudah kekal dalam kepalanya, sehingga ketika dia bercerita kami pun seperti mendengar cerita “babad tanah leluhur” yang dulu sering disiarkan di radio. Entah siapa tokoh yang diceritakannya, kami semua tidak ada yang mengenalinya satupun, namun dia akan selalu menunjuk ke orang-orang tertentu jika orang terebut memiliki hubungan kekeluargaan dengan tokoh yang sedang diceritakannya itu. Dan, tak ayal juga kalau seandainya ada murid yang geleng-geleng kepala, karena tidak semua murid mengetahui asal-usul mereka, dan maklum saja, kami pun masa itu sedang berda di bangku sekolah dasar, masih budak ingusan.

Karena kewibawaannya, kadang dia juga terkesan galak, mungkin karena ketegasannya. Dia tidak sungkan-sungkan untuk menghukum murid-murid yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya. Tangan atau punggung kena rotan, itu hanya hal biasa. Selalunya, jika ada pertanyaan atau soal yang diberikannya tidak bias dijawab oleh murid, maka siap-siap lah menerima hukuman tersebut. Gaya mengajarnya memang masih menggunakan prinsip orang lama, namun sangat berkesan. Itu pun masih berlangsung sampai awal 90an, namun, di era abad 21 sudah banyak ternyata yang berani melawan dia yang masih menerapkan cara kampungan tersebut (menurut mereka).

Pernah suatu ketika, disaat kelas telah usai, tepatnya jam 5.30 sore, semua kelas telah usai dan murid-murid pun diperbolehkan keluar kelas. Entah kenapa, tiba-tiba ada seorang murid yang memberitahukan saya dan kawan-kawan laki-laki lainnya supaya kembali lagi ke kelas, Pak “B” sedang menunggu, ada urusan penting. Dengan nafas yang terengah-engah dan penuh tanda Tanya di kepala kami pun terpaksa kembali, memang tidak banyak, dalam kelas itu murid laki-laki tidak lebih dari 10 orang. Dia pun keliatan sangat gusar dan marah sekali. Ternyata, ada salah seorang kawan saya yang sangat usil dan keterlaluan, perlakuannya itu sangat memalukan sekolah agama tentunya. Meskipun baru setingkat sekolah dasar ternyata kawan saya ini benar-benar keterlaluan, dia berani ---------- terhadap seorang murid perempuan. Tak ayal lagi, meskipun dia yang berbuat, kami pun terkena getahnya, kami diskors dari sekolah selama seminggu, dan itu sangat memalukan kami sebagai laki-laki. Begitulah ketegasannya, tidak ada satupun yang berani menantangnya saat itu.

Saya baru sadar, kalau semua pelajaran hidup yang diajarkannya dulu tidaklah kita perhatikan. Semua itu mulai terasa disaat-saat sekarang ini, diwaktu hidup mulai terasa sulit dan di masa kedewasaan yang makin menjelang. Terimkasih Buya, semoga apa yang Buya ajarkan akan selalu mendampingi Buya di alam itu, dan semoga amal ibadah Buya itu akan melapangkan kubur Buya.

Selamat Jalan dan terima kasih Buya Bukhari Bakry El Hakim

cerita dikit

Ada yah di dunia ini??, itu lah kalimat yang muncul di benak saya ketika mendengar sebuah acara live di Hot FM. Perjalanan yang hanya beberapa menit menuju kampus itu menjadi sesuatu momen yang sangat berharga untuk mendengarkan pengalaman hidup seorang anak manusia.

Alkisah, ada seorang lelaki yang menelpon ke stasiun radio tersebut dan dia menceritakan bahwa dia akan menikah hari Jumat nanti (sekarang dah selasa pagi). Yang menjadi masalah dan kendala yang sangat berat bagi dia adalah : “dia sedang mencintai dua orang gadis yang berbeda pada saat yang bersamaan”. Dia sudah tau kalau Jumat bakal datang dan akad nikah pun bakal belangsung, namun di balik itu, dia sama sekali tidak bisa meninggalkan perempuan yang satu lagi itu. Pengennya dia sih bisa menikahi kedua-duanya secara bersamaan, gila apa yah?manusia edan dan sedeng kali tuh. Tapi ga tau juga yang sedeng yang mana, whether lelakinya atau perempuannya. Anehnya lagi, si perempuan yang ditinggalkan mengetahui kalo si lelaki itu udah bertunang, dan tunangnya itu pun mengetahui kalau lelaki ini pun punya pacar juga selain dia. Dasar buaya yah…

Ternyata, banyak yang aneh-aneh di dunia ini sekarang, apakah ini pertanda dunia akan segera kiamat, karena jumlah perempuan yang sangat banyak dibandingkan dengan jumlah lelaki, dan bisa jadi perempuan takut tidak mendapatkan pasangan???sampai ada yang mau berkorban jadi istri ke-2, ke-3 bahkan terkhir ada berita seorang perempuan ikhlas jadi istri ke-4 bagi seorang lelaki tua.

Wedding of The year

11 januari 2009 adalah hari yang sangat berarti bagi Asmawi Ani, atau lebih dikenal sebagai Mawi, artis yang meroket namanya setelah memenangkan juara Akademi Fantasia ke-3. Resepsi pernikahan yang dilangsungkan di Hotel Palace of The Golden Horses itu hanya dihadiri oleh tamu VVIP sekelas menteri, artis dan public figure dunia hiburan Malaysia.

Sebenarnya aku tidak berminat benar dengan dunia hiburan yang penuh glamour dan sensasional ini, namun setiap hari selalu saja terdapat bahan-bahan yang menjadi referensi lengkap di rumah menambah rasa keingintahuanku. Disamping itu, di rumah juga ada seorang “purchasing manager-nya” ASTRO yang selalu punya info uptodate, dan tak ayal lagi informasi dirumah selalu bertambah dari hari ke hari. Kakak-kakakku di rumah semuanya peminat Mawi, dan semua gossip tentangnya, dari A-Z sudah jadi konsumsi mereka.

Dulu, waktu pertama kali sampai di Malaysia aku pun sempat menonton resepsi pernikahan penyanyi nomor satu Malaysia, Siti Nurhaliza. Namun resepsi kali jauh sangat berbeda dengan resepsi Siti yang jelas-jelas suaminya adalah bisnismen itu. Kali ini, semua peralatan dan keperluan semasa resepsi disediakan oleh sponsor, barangkali sampai CD (celana dalam) atau bagian dalam lainnya pun tak luput dari sponsor, hehehe. Mulai dari hotel, pengiring penganten, busana, pelaminan, catering, cake, kembang api dan lain-lain telah disediakan oleh sponsor, diperkirakan semuanya memakan biaya RM 820.000 (Rp. 2,5 M), wah…wah…

Seperti dibius, aku pun terpaksa duduk di depan TV sejak acara dimulai. Meskipun nantinya setiap hari akan selalu ada tayangan ulang di ASTRO RIA, namun nonton versi LIVE juga seru. Pasangan pengantin datang dari tengah danau menggunakan boat yang telah dihias. Sesampai di dermaga, mereka turun dan telah dinanti oleh pasukan berkuda. Lalu turunlah seseorang yang mengenakan pakaian seperti Aladdin dengan muka tertutup tanpa membawa pedang. Di sekelilingnya kuda-kuda berkeliaran seperti sedang melindungi tuannya. Ternyata, si Aladdin tadi adalah penganten lelaki, dan dengan gagah berani dia menjemput istrinya yg dikawal oleh semua peasukan berkuda.

Pasangan penganten pun diarak menggunakan kereta kuda, meskipun kuda tidak lancar karena begitu banyak jepretan blitz yang mengenai matanya, sehingga penganten pun sempat terlihat cemas, namun akhirnya selamat juga sampai di pintu utama ruangan acara. Para ajudan dan bodyguard pun sibuk mendampingi sang raja sehari itu menuju ke pentas yang mewah dan meriah.

Tema acara kali ini adalah ala Timur Tengah, entah dari mana dia dapat ilham ini. Penganten dibalut dengan busana khas ala negeri 1001 malam dan tak sontak lagi ditambah dengan kesenian, nyanyian dan musical gurun pasir. Para tamu pun kelihatan berbusana Arab-ria. Bagiku ini adalah ide yg bagus, karena sekurang-kurangnya para artis dapat menutup aurat mereka meskipun ada beberapa artis non muslim yang memakai gaun seksi. Perempuan pun banyak yang memakai cadar, dan tentu saja lelaki memakai gamis serta syurban sebagai dress code.

Seperti biasa adat dan budaya disini, tamu VVIP akan merenjis memberikan restu kepda kedua mempelai. Dilanjutkan dengan persembahan atau konser dari artis-artis terkenal, dengan berbagai macam warna lagu. Mulai dari irama melayu, padang pasir, barat, nasyid dan tidak ketinggalan tentu ada juga lagu indonesianya,hehehe, meskipun tidak dinyanyikan oleh orang Indonesia, khabarnya Rossa juga diundang, tapi dia lagi sibuk di Jakarta.

Bagiku, menuliskan perkawinan ini bukanlah suatu ke-lata-an, tapi aku melihat dari sudut pandang yang berbeda. Majlis perkawinan memang dianjurkan oleh agama kita, tapi yang berlebih-lebihan adalah sangat tidak diharapkan. Disamping itu, khidmat dan nilai resepsi jadi berkurang. Bagaimana tidak?terdapat banyak kontroversi disana-sini. Hak siar yang hanya dimiliki oleh ASTRO dimonopoli semuanya, dan menyebabkan clash dengan pihak media lainnya yang juga memerlukan berita untuk kelangsungan perusahaan. Orang kampung pun bentrok dengan kru serta manajemen produksi, karena mereka anggap kampung itu adalah milik mereka, dan mereka pun “membisniskan” kampungnya dengan si raja SMS itu (Mawi). Dan satu lagi, kita tau bahwa kehidupan artis itu selalu jadi konsumsi masyarakat, hendaknya penikahan yang gilang gemilang (sampai 3x resepsi) ini janganlah hanya berumur beberapa saat saja, teruslah bahagia dan berkekalan sampai ke akhir hayat.

=bukan penggemarmu, tapi menyukai beberapa lagumu=

Bercerita Tentang Nanoteknologi

Apa sudah jadi dengan dunia ini. Teknologi sudah semakin canggih dan maju. Betul sudah, teknologi telah diciptakan untuk mengefisiensikan kerja manusia dan memudahkan semua hal. Teknologi mikro (microtechnology), dalam beberapa dekade ini telah mengalami peralihan ke generasi yang lebih kecil yang biasa dikenal sebagai teknologi nano (nanotechnology). Tak ayal lagi, trend nanotech dilirik oleh semua industri untuk menambah nilai jual produk mereka di pasaran. Semua produk pun sekarang ini selalu menambahkan perkataan “nano” dalam labelnya, tentu saja ini akan meningkatkan animo masyarakat terhadap produk tersebut, dengan anggapan produk itu sedikit lebih maju menggunakan teknologi mutakhir.

Bicara ukuran nano (10‑9m), berarti kita membicarakan bahan atau sesuatu dalam skala yang sangat kecil. Apakah anda tahu segimana ukuran 1-100 nanometer itu?. Kita bisa mengambil contoh dengan rambut kita. Rambut kita berukuran 60 mikron, terus dibagi menjadi 1000 kali lebih kecil, itulah ukuran sebenarnya bahan berskala nanometer itu. Sangat kecil memang, tapi kita masih bisa melihat benda atau bahan tersebut dengan menggunakan peralatan canggih seperti Scanning Electron Microscopy (SEM). Dengan bantuan SEM kita bisa melihat dengan jelas struktur permukaan, dan benda-benda yang berukuran nano itu sendiri.

Semua produk pun mulai memanfaatkan teknologi ini dalam pengembangannya. Mulai dari produk alat kecantikan, seperti krim sunblock sampai kepada piranti elektonika. Dan terakhir, nanotech sedang booming dimanfaatkan dalam bidang medis untuk mendeteksi dini kanker serta menghancurkan sel-sel yang meracuni tersebut dengan memanfaatkan nano mesin.

Berbagai macam tipe dari bahan nano ini telah dikembangkan oleh peneliti di seluruh dunia, mulai dari nanorod (tabung nano), nanowires (kabel nano), tabung nano karbon (Carbon Nano Tube; CNT). Perubahan ukuran dari skala makro ke skala mikro, bahkan skala nanometer menjadikan perubahan yang cukup signifikan terhadap sifat-sifat bahan. Kalau dalam skala biasa, pergerakan atau sifat bahan masih dipengaruhi oleh Hukum Newton (Fisika Klasik), sedangkan untuk skala ini tidaklah berlaku lagi, dan yang terpakai adalah mekanika kuantumnya Edwin Schrodinger dan kawan-kawan. Dan permainan untuk mengutak atik sifat dan kelakuan bahan ini lah yang menjadikan bahan bisa diaplikasikan untuk keperluan tertentu.

Andai (2)

Masa SD adalah masa yang sangat indah bagiku. Ga harus mikirin orang lain, ga peduli ma kehidupan lain, yang penting aku ma teman-teman selalu hepi. cukup…..Kebosanan sekolah di pagi hari akan terobati dengan kedatangan sore, karena sorenya aku juga akan bertemu temn-teman baru di sekolah MIS. Sebenarnya sih, orang-orang itu masih kutemui di pagi hari, mungkin karena sekolah yang berbeda (SD kami adalah SD kompleks, gabungan dari 3 buah SD di tempat yang sama).

MIS adalah singkatan dari Madrasah Ibtidaiyah Swasta, dari sinilah aku menimba ilmu pengetahuan agama semasa aku kecil. Sekolah swasta biasa saj, hasil swadaya masyarakat yang ada dikampungku. Meskipun begitu, sekolah ini tidak bisa dianggap enteng oleh sekola-sekolah agama yang berstatus negeri. Jika ada Ebtanas Agama selalu saja MIS ku ini yang menjadi pemenang untuk rata-rata tertinggi mengalahkan MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) yang ada di kecamatan. Sebenarnya, ini hanyalah sebagai salah satu langkah uji coba, yahhh, uji coba “kekuatan” anak didik dalam menghadapai kurikulum yang dibuat oleh Departemen Agama, yah,,,,, guru-guru dan kepala sekolah pun berpuas hati dengan hasil ini. Jadi setelah tamat MIS aku pun aku juga punya ijazah yang diberikan oleh Departemen Agama karena telah mengikuti ujian persamaan ini.

Sore, adalah saat-saat yang selalu dinantikan oleh aku dan kawan-kawanku, karena ada banyak hal yang membuat menarik di sekolah MIS ini. Yang pasti saja, berlari-lari main di pekarangan mesjid yang luas adalah pembuka hari di sekolah sore. Bel pun berbunyi, anak-anak pun mulai menghentikan permainannya dan segera ke keran atau ke kolah tuk mencuci muka yang memerah karena kecapean berlari. Kebanyang kan gimana suasana kelas jika dipenuhi oleh anak-anak yang berkeringat dan muka yang memerah karena panas dan keceapean. Yah pasti kelas akan bau keringat. Dan saat yang paling ditunggu adalah “gotong royong”, karena selain membersihkan ruangan dan pekarangan kita juga disuruh membersihkan papan tulis (yang masih menggunakan kapur) di kolam renang,,,,bayangkan saja????yah pasti anak-anak senangnya minta ampun, tinggal buka baju, buka celana, pake celana dalam aja langsung nyemplung ke kolam, dengan alasan membersihkan papan tulis bisa berenang juga,,hahahahaha, yah pasti ribut dunk.

Begitulah selama 3 tahun, disamping belajar ilmu agama, kita juga diajarkan bagaimana harus “hidup” secara alami, yang akhirnya pengalaman-pengalaman itu sangat berharga yang bisa diaplikasikan di saat ini. tahun 1994 pun aku tamat MIS dan SD terus SMP di Kumango, daerah yang terkenal dengan silat Kumango..pada tau ga????

Andai

Andai……..
Andai waktu bisa saya ulang kembali. Saya akan gunakan untuk kembali 20 atau 17 tahun silam. Yang mana saya masih kecil, masih lugu, belum mengerti dan faham tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Pagi-pagi sekali saya akan dibangunkan oleh Mama yang selalu ngomel (tapi dengan sangat ikhlas) membangunkan kami adik-beradik yang tidak bangun-bangun juga. Sembari menyiapkan sarapan di dapur sang dewi yang tidak pernah bosan akan selalu berteriak memanggil kami anak-anaknya untuk bangun dan segera solat subuh, lalu bersiap untuk pergi ke sekolah. Namanya juga anak kecil, bangun subuh itu sangatlah susah apalagi di kampung yang terletak di daerah pegunungan yang tentunya akan masih ternyenyak tidur sambil menarik keatas selimut tebalnya.

Saya pun akan terbangun juga akhirnya, masih ingat kok jam berapa harus mandi, karena sudah tahu jam berapa harus masuk ke kelas dan jam berapa paling lama harus berangkat dari rumah. Sarapan yang telah terhidang di meja pun telah disiapkan sejak tadi oleh mama, yang tentunya setelah mandi, anak-anaknya akan mendekati sarapan itu untuk mengganjal perut demi menyambut datangnya hari baru dalam kehidupan mereka.

Meski berjalan kaki, saya sangat menikmati kehidupan saya sewaktu kecil. Ada kebahagiaan tersendiri yang terpancar dalam benak ini dikala memakai seragam merah putih itu. Walapun masih kecil, dan pastilah pada saat itu saya menyangka tidak ada orang yang ambil peduli dengan saya, tapi saya tetap adalah diri saya, dan bukan orang lain. Perjalanan sejauh lebih kurang 1 km untuk menuntut ilmu tidaklah terasa jauh, malah semakin membuat saya bersemangat dan terus menemukan apa di balik semua ini.

Andai……
Andai waktu ini bisa saya ulangi lagi…….saya akan meminta untuk diputar kembali ke waktu saya bersekolah agama di MIS. Meskipun hanya sebagai sekolah nomor dua –nomor 1 SD-, namun sungguh banyak yang saya dapat di sekolah ini. Konon kabarnya, kualitas materi yang diajarkan di sekolah ini setingkat dengan materi yang diajarkan di perguruan tinggi Islam pada saat sekarang ini. Ini benar adanya, sejak berdiri sampai sekarang sekolah ini (meskipun sekolah swasta) selalu mendapat ranking satu di tingkat kabupaten. Disiplin yang diterapkan, memang, masih menggunakan cara-cara kuno, tapi cara ini sangat ampuh untuk membentuk seseorang yang berkepribadian tangguh. Dipukul dengan rotan, dilempari dengan penghapus papan tulis, itu adalah hal yang wajar bagi si pembuat salah atau pembuat keonaran. Walhasil, anak-anak akan kapok, dan tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

2b continued….

Filter Add-Drop Untuk Komunikasi Jalur Lebar

Kunci teknologi untuk sistem serat optik yang menggunakan Wavelength Division Multiplexing (WDM), adalah filter add-drop. Dalam bentuknya paling sederhana filter add-drop adalah sebuah filter dengan devais empat port yang didesain untuk memasukkan dan mengeluarkan sebuah kanal tunggal. Secara umum filter ini terdiri dari port input (I) dan output (O) multi-kanal, yang secara bersamaan membentuk sebuah bus sinyal utama dan port drop (D) dan add (A) kanal-tunggal.

Dalam penelitian ini dilakukan studi teoritis untuk mempelajari kinerja filter add-drop dengan menganggap filter ini merupakan kopling dari dua buah pandu gelombang yang dimodifikasi dengan menggunakan kisi Bragg, yang merupakan kisi pemantul sinusoida pada salah satu lengan. Selanjutnya digunakan teori mode coupling untuk menentukan masing-masing amplitudo yang timbul pada masing-masing port. Karakteristik filter ditentukan oleh amplitudo pada port yang bersangkutan, misalnya untuk drop output ditentukan pada port drop dan return loss ditentukan pada port input.

Hasil perhitungan menunjukkan, bahwa drop output maksimum terjadi pada saat gelombang datang beresonansi dengan kisi Bragg sehingga terjadi pemantulan maksimum, begitu juga halnya dengan return loss. Lebar pita pulsa yang sempit pada drop output dan return loss yang sangat kecil menandakan informasi yang hilang selama transportasi data telah dapat dieliminasi. Jadi, disimpulkan bahwa, kisi Bragg dapat dipergunakan pada divais filter add-drop.